Sesuatu tentang ketulusan cinta

Salah satu adegan dalam film “Mohabbatein” yang menarik yaitu pada saat dialog sharuk khan bersama ketiga orang muridnya. “Sebelum mencintainya, aku tidak mensyaratkan dia akan lebih lama hidup daripada aku. Tak ada syarat dalam cinta, tak ada yang perlu disesalkan.”
Itulah cinta…mungkin ada yang akan berkata “itukan film, realitanya tidak seperti itu”. Saya pribadi akan menolak pendapat tersebut..Karena itulah yang saya rasakan dan lakukan ketika saya mencintai “my little eve”. Perjalanan dari awal menjalin hubungan hingga harus berakhir telah memberi saya pelajaran bahwa mencintai seseorang itu selalu tentang kita, bukan tentang orang yang kita cintai.
Ketika kita jatuh cinta, benar – benar jatuh cinta, kita tidak memberi syarat apa pun..kita tidak mengatakan “kalo dia begini maka saya jatuh cinta, kalo dia begitu saya jatuh cinta”. Tidak, sama sekali tidak. Ketika jatuh cinta, jatuh cinta itu tidak sengaja dan tidak direncanakan, maka itu tanpa syarat. Ketika mencintai seseorang maka secara sadar atau tidak kita akan berubah dan menyesuaikan diri dengan orang yang kita cintai itu tanpa perlu diminta. Kita akan cenderung menyesuaikan diri bukannya meminta dia yang berubah untuk sesuai dengan kita. Tulus mencintai itu tentang kita bukan tentang dia.
Melihat dia tersenyum merupakan tujuan dan alasan dari tingkah laku ataupun perbuatan “gila” dari yang mencintai. Ya, ketika kita benar – benar mencintai seseorang maka kita cenderung berusaha sekuat tenaga untuk melihat orang yang kita cintai tersenyum bahagia. Karena senyumnya merupakan kebahagiaan kita. Tulus mencintai itu adalah melakukan perbuatan – perbuatan “gila” bukan untuk membuat dia jatuh cinta melainkan karena senyum bahagianya adalah yang utama untuk kita.
Tulus mencintai yang paling sulit adalah melihat dia bahagia walaupun untuk itu kita harus melepaskan dia. Menurut saya itulah ketulusan yang paling tulus dari sebuah perasaan cinta. Banyak pendapat yang mengatakan kalo sudah putus ya sudah, lupakan mantanya, jauhkan sejauh – jauhnya. Ketulusan cinta menuntut hal yang sebaliknya. Tetap mencintai tanpa harus memiliki, karena suka tidak suka rasa cinta itu tidak berubah menjadi benci. Kita saja yang berusaha meyakinkan diri kita bahwa itu telah menjadi benci.
Tuluslah mencintai seseorang yang kita jatuh cinta kepadanya, tuluslah menjalani hubungan dengannya dan tetap tulus mencintainya walaupun dia memilih untuk tidak bersama kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: