Sesuatu tentang cinta…

“Jangan kau kira cinta datang dari keakraban yang lama dan pendekatan yang tekun. Cinta adalah anak kecocokan jiwa, dan jika itu tidak pernah ada, cinta tak akan pernah tercipta dalam hitungan tahun bahkan milenia.”
Kahlil Gibran

Kutipan diatas saya dapat ketika menonton acara Indonesia Lawak Klub. Kutipan Kahlil Gibran tersebut saya gunakan pada tulisan ini bukan karena itu kata – kata dari Kahlil Gibran, alasan utama adalah karena saya merasa atau lebih tepatnya ungkapan tersebut menggambarkan apa yang saya pernah, sedang dan akan terus saya rasakan.

Tulisan ini bukanlah curhat, maksud utama dari tulisan ini adalah berbagi pengalaman khususnya pengalaman betapa indahnya ketika merasakan cinta. Saya berpikir mungkin saja diluar sana ada orang lain yang seperti saya, merasakan manisnya jatuh cinta lalu merasakan pahitnya patah hati. Sebagian orang dapat dengan mudah “move on” namun sebagian orang lagi merasakan kesulitan untuk “move on”. Tulisan ini akan saya bagi menjadi beberapa seri tulisan yang semuanya sekali lagi bukan tentang curhat saya ataupun tentang menceritakan kebodohan saya. Lebih dari itu saya cuma mau berbagi kepada sesama saya yang mungkin saja merasakan hal yang sama seperti yang saya alami. Saya merasa bertanggung jawab untuk membagi pengalaman saya karena saya merasa saya mengalami semua itu karena ada maksudnya. BAPA di surga mengijinkan saya mengalami kejadian ini sehingga saya dapat membaginya.

Bagian pertama dari tulisan ini sesuai dengan kutipan diatas. Cinta itu menyangkut tentang kecocokan jiwa. Setelah hubungan saya berakhir, saya jadi banyak memikirkan hubungan itu. Pada awalnya mungkin karena saya patah hati. Saya selalu “membela diri” dengan berkata “wajarlah kan saya lagi patah hati”. Sekarang setelah lebih dari setahun berlalu saya bisa berpikir lebih jernih. Kembali kepada persoalan kecocokan jiwa. Sebelum mulai ada baiknya saya sedikit menceritakan tentang hubungan yang saya jalani.

Saya sangat – sangat tidak berpengalaman soal cinta, pacaran dan hal – hal seputar itu. Saya jauh dari model laki – laki romantis. Saya bahkan sangat grogi ketika berhadapan dengan wanita, apalagi jika wanita itu merupakan wanita yang saya sukai. Sekitar 6 tahun yang lalu saya mulai berhubungan dengan seorang wanita. Saya akan menyebut wanita ini dengan sebutan “my little eve”. Kenapa saya perlu membawa – bawa “my little eve” dalam tulisan ini? karena semuanya berawal darinya.

Saya lelaki yang hampir tidak tau wanita seperti apa yang saya sukai, saya cenderung melihat “isi dalam” bukan isi daleman dari wanita hehehehe. Entah kenapa, ketika saya menyukai seorang wanita, benar – benar menyukai, saya seperti mampu melihat seperti apa jiwa atau kepribadian mereka. Ketika saya pertama kali bertemu “my little eve” hal ini juga terjadi. Saya seperti bisa melihat jiwa dan kepribadiannya. Kepribadian seorang “parampuan”, begitulah kalo saya menyebut wanita atau perempuan yang luar biasa. Jujur saja, jiwa dan kepribadian saya yang “aneh dan nyeleneh” ini seperti mendapat “teman” pada jiwa dan kepribadiannya.

Sebenarnya saya lebih senang mengatakan kalo jiwa saya seperti menemukan pasangannya yaitu jiwa “my little eve”. Karena kepribadian saya dan dia sangat berbeda. Kalo mau dikatakan secara singkat, jika ingin melihat kebalikan dari kepribadian saya, lihat saja “my little eve”. Begitu juga sebaliknya. Secara fisik apalagi, saya dengan tinggi hampir 170 cm dengan kulit gelap sedangkan dia hanya skitar 140 cm dengan kulit bersih. Latar belakang pendidikan juga bagaikan bumi dan langit, saya dengan ilmu pasti, ilmu komputer, pada saat itu sedang berjuang untuk lulus S1 setelah sebelumnya pernah DO(drop out) sedangkan dia sedang menyelesaikan sekolah S2 dalam bidang ilmu sosial. Perbedaan juga terletak pada keyakinan. Dengan semua perbedaan – perbedaan itu dapat terjadi, terbina sebuah hubungan yang sama sekali jauh dari kata mesra atau romantis tapi..tapi saling melengkapi. Perbedaan – perbedaan itu tidak hilang atau berusaha dihilangkan, perbedaan – perbedaan itu justru saling melengkapi. Dasarnya karena persamaan dan kecocokan jiwa.

Kecocokan jiwa, ya, itulah kata yang tepat untuk menggambarkan jika ada yang bertanya kepada saya kenapa atau apa yang membuat kau mau dengan dia. Satu hal yang kadang saya merasa aneh dan lucu adalah saya baru menyadari kalo “my little eve” itu berpenampilan dan berwajah manis cantik justru ketika sudah menjalani hubungan selama 4 tahun hehehe..karena saya sama sekali tidak pernah melihat “cantiknya” wajahnya, tetapi saya selalu melihat betapa “anggunnya” jiwanya..Itu menuntun saya kepada apa yang saya sebut dengan pasangan jiwa..bukan teman hidup, karena pada akhirnya hubungan itu harus berakhir. Tapi jiwa yang melengkapi jiwa saya itu tidak pernah meninggalkan saya, walaupun awalnya saya sempat berpikir demikian sehingga saya benar – benar terpuruk. Fisiknya, orangnya memang sudah tidak bersama dengan saya, tapi jiwanya ternyata sudah bersatu dengan jiwa saya. Sehingga sedikit banyak saya menjadi seorang yang berkepribadian lengkap, lelaki yang sudah lengkap jiwanya, sehingga jika nanti ketika saya bertemu pasangan hidup saya, saya sudah lengkap untuk diberikan kepadanya sebagai pasangan hidupnya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: